Rabu, 15 Juni 2016

contoh cerita riwayat hidup yang memotivasi

CERITA RIWAYAT HIDUP

Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatu....

            Saya Nurmia noviantri lahir di kp.cimarga 03 november 1996. Saya anak perempuan yang dilahirkan dari keluarga sederhana. Saya tinggal dan di besarkan di kota rangkasbitung, lebak provinsi banten. Orang tua saya asli rangkasbitung dan keturunan sunda. Ayah saya adalah wiraswasta dengan  bidang jasa tambal ban, sedangkan ibu saya adalah ibu rumah tangga. Saya anak pertama dari 3 bersaudara. Adik saya duduk di bangku 2 SMP dan 6 SD yang masih membutuhkan banyak biaya.
            Saya lulus dari SDN Margajaya 1 kp.cimarga pada tahun 2008. Jarak rumah saya kesekolah kurang lebih 2 KM, saya biasanya kesekolah naik angkutan umum yang biasanya menghabiskan biaya Rp 600 pulang pergi setiap harinya sedangkan uang saku saya perhari Rp 1000,  saya biasa menggunakan sisa dari uang saku saya untuk jajan atau keperluan iuran kelas. Saya sering jalan kaki kesekolah hal tersebut karena saya ingin mempunyai uang jajan lebih. Selama saya bersekolah di SDN Margajaya 1, alhmadulilah saya selalu masuk dalam urutan 3 besar. Waktu SD saya menyukai pelajaran matematika dan menggambar, saya pernah dipilih untuk mewakili SDN Margajaya 1 dalam lomba matematika dan menggambar  tingkat kecamatan, alhamdulilah dalam bidang matematika saya mendapatkan juara 3 dan dalam lomba menggambar saya mendapatkan juara harapan 2. Selain bersekolah di SDN Margajaya 1 saya juga belajar di madrasah/ MI pada sore hari nya, alhamdulilah selama saya sekolah di SDN Margajaya 1 dan MI gratis. Dengan semangat juang yang tinggi dan kemauan yang besar, selama di SDN dan MI saya slalu mendapatkan peringgkat kelas dan  menjadi utusan untuk berbagai macam lomba.
Banyak hal yang memotivasi saya untuk terus bersekolah, salah satunya adalah karna saya adalah orang kampung maka saya tidak boleh kampungan dan tidak berpengetahuan. Selain itu hal yang paling memotivasi saya adalah keadaan ekonomi keluarga saya, yang dapat dikatakan kelas ekonomi bawah, maka saya harus menjadi anak yang berprestasi agar nantinya saya dapat membantu keluarga dan memperbaiki keadaan keluarga saya.
Dikampung cimarga hampir sebagian warganya putus sekolah atau hanya lulus SD. Dan banyak juga teman saya yang selepas SD langsung menikah atau bekerja di PRT di beberapa kota. Dari sana saya bertekad untuk keluar dari kebiasaan yang ada di kampung saya. Dengan segala keterbatasan dalam kususnya bidang ekonomi saya melanjutkan pendidikan ke sekolah tingkat pertama. Saya bersekolah dan mondok di ponpes modern Darussa’adah yang sebagian besar siswanya dari golongan ekonomi menengah. Pada umumnya pondok pesantren modern terkenal dengan bayaran yang cukup mahal, tapi alhamdulilah karna orang tua saya mendukung  dan mendoakan saya, Allah melancarkan niat baik saya, maka pada saat itu ada tawaran masuk  pesantren DAARUS’SAADAH dengan keringanan biaya, pada saat itu biaya perbulan adalah Rp 250.000, karna saya mendapatkan keringanan biaya,  saya hanya  membayar Rp 100.000 /bulan,kesempatan yang sangat luar biasa dan sungguh rezeki yang harus disyukuri.
Selama di MTS Daarussaadah saya selalu menduduki peringkat 3 besar. Di MTS Daarussaadah, saya tidak hanya mengikuti kegiatan formal akan tetapi saya juga mengikuti non formal, seperti; basket ball, pencak silat, dan  badminton serta kegiatan pondok lainnya seperti muhadoroh, muhajahah, muhadasah dan lain sebagainya. Dimana kegiatan-kegiatan tersebut telah memberikan manfaat yang dapat saya rasakan sampai saat ini. Saat MTS  saya juga mengikuti kegiatan IPPNU ( Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama ) yang bergerak dalam bidang latihan dasar kepemimpinan santri. Pada tahun 2011 saya lulus dari MTS Daarussaadah dengan hasil yang cukup memuaskan.
Saya melanjutkan SMA di pesantren modern yang sama, yaitu SMA Daarus’saadah dan tetap mendapatkan peringanan, yah walaupun memang harga bayaran perbulannya pun meninggkat,dengan dukungan dan kerja keras orang tua saya,mereka banting tulang tak kenal malu tak kenal panas ataupun kedinginan ,pada saat saya SMA memang pada saat itu orang tua saya berenisyatif untuk dagang bunga di pinggir jalan,rintangan demi rintangan ledekan demi ledekan memang sudah tak asing bagi saya,akan tetapi adanya ledekan dan dan rintangan yang saya harus lalui membuat saya untuk harus tegar dan semangat, karna saya berfikir ini lah keadaan saya saat ini dan inilah keadaan orang tua saya saat ini,tapi saya yakin Allah mempunyai rencana yang jauh lebih indah dari ini.
Ketika di pondok pesantren selalu ada namanya pergantian pengurus atau lebih familiar di sebut mudabir dan mudabiroh  ketika akir semester kelas  2  SMA , ketika itu saya mendapatkan jabatan yang bisa di katakan tidak terlalu rendah yaitu sebagai bagian bahasa atau disebut kismu lugoh yang mana kita saya dan teman teman saya yang 3 orang ini di tuntut untuk pintar dalam bernahasa karna kita secara tidak langsung  rajanya bahasa ,maka dari itu semakin besar kita maka akan semakin besar pula tanggung jawab kita, maka pada kesempatan ini saya terus menggali dan memperbanyak kosa kata bahasa saya, karna pada dasarnya di pondok pesantren itu hanya menggunakan 2 bahasa, yaitu bahasa arab dan bahasa inggris.
Tahun 2014 saya lulus dari  SMA pondok pesantren DAARUS’SAADAH dengan syarat kelulusan hapal qur’an 12 surat. Senang lah hati saya bangga lah keluarga saya karna saya bisa melewati semua itu, akan tetapi ternyata ketika saya lulus dari pesantren DARUSSADAH ini Allah mentakdirkan saya untuk tidak langsung meninggalkan pesantren ini begitu saja , ternyata pimpinan pesantren turun langsung untuk memilih orang orang yang alhamdulilah bisa dikatakan santri teladan mengabdi di pesantrennya selama 1 tahun. Sangat begitu banyak cobaan menjadi seorang guru yang kecil dan tidak berpengetahuan luas. Maka dari itu saya tidak ingin hanya sekolah yang hanya tamatan SMA ingin rasanya saya melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, tapi apalah daya saya tak punya keberanian untuk berbicara kepada orangtua, karna orang tua saya bukanlah orang yang mampu. Saya pulang kerumah setelah 1 tahun mengabdi di pondok.
Dengan hati yang ketakutan saya pun nekad untuk berbicara bahwa saya ingin kuliah, nangis lah orang tua saya,mereka menangis bukan karna mereka tak ingin untuk mensekolahkan saya, tapi karana faktor ekonomilah yang membuat mereka tertekan, subhanallah dengan tekad yang kuat dan susah payah ternyata mereka mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sehingga terkumpulah uang agar saya bisa kuliah, dengan saya mendaftarkan diri ke UIN Syarif Hidayatullah dengan bismilah saya mengikuti berbagai proses agar masuk ke perguruan negri ini, karna yang lebih saya takutkan adalah saya hanya mengikuti 1 tes, berbeda dengan teman-teman saya yang mengikuti berbagai tes dan berbagai universitas karna memang mereka ada kecukupan uang, dan alhamdulilah Allah mengabulkan doa saya dan doa semua orang yang mendukung saya termasuk orang tua tercinta, dengan jalur mandiri yang saya ikuti saya LULUS. Ya allah senangnya luar biasa, tapi perjuangan orang tua saya tidak cukup sampai disini, dengan mempersiapkan uang daftar ulang dan lain sebagainya orang tua saya rela pinjam kemanapun agar saya menjadi mahasiswa UIN jakarta, maka dari itu ingin rasanya saya tidak membebani orang tua lagi. saya ingin kuliah dengan tidak sepeserpun untuk minta kepada orang tua, maka dari itu saya mengikuti tes BEASTUDI ETOS 2015 semoga allah melancarkan segala urusan kuliah saya dan niat baik saya, semoga saya bisa menjadi sarjana hukum ekonomi syariah yang handal dan taat kepada Allah. Amiiiiin.

Wassalamualaikum warohmatullahiwabarokatu...........